Memahami Sejarah Qurban Nabi Ibrahim sebagai Dasar Berkurban



Pada hari raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah, umat muslim yang mampu diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban. Penyembelihan hewan qurban, selain sebagai wujud ketaqwaan dan ketaatan umat manusia kepada Allah, juga merupakan wujud solidaritas umat Islam. Sebab, ibadah qurban tidak hanya membawa kebaikan bagi orang yang menunaikannya, namun juga bagi seluruh umat muslim di sekitarnya. Hewan qurban yang telah disembelih, dagingnya harus dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal ini tentunya akan membahagiakan orang yang menerimanya. Terlepas dari semua itu, terdapat sejarah qurban Nabi Ibrahim yang menjadi salah satu dasar dari melaksanakan ibadah qurban.

Lantas, bagaimanakah sejarah qurban Nabi Ibrahim

Berawal ketika Nabi Ibrahim mengalami beberapa kali mimpi secara berturut-turut. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putera kesayangannya, Ismail, dari istrinya Siti Hajar. Pada waktu itu, Ismail merupakan putera semata wayang yang amat dicintainya dan sudah ditunggu selama bertahun-tahun, setelah tidak mendapatkan anak dari Siti Sarah. Ismail adalah anak yang penurut, selalu patuh pada orangtua dan perintah Allah. Ismail juga memiliki pemikiran cerdas dan selalu ceria. Karenanya, berhari-hari hati Nabi Ibrahim gundah memikirkan mimpinya. Pada saat itu, sekitar umur 13 tahun, Ismail sudah diangkat menjadi nabi.

Tidak ada yang bisa diperbuat Nabi Ibrahim selain melaksanakan perintah Allah tersebut. Berdasarkan sejarah qurban Nabi Ibrahim, pada suatu waktu datanglah Nabi Ibrahim kepada Ismail dan menceritakan mimpinya sambil berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”. Perlu dipahami, mimpi bagi para Nabi merupakan wahyu yang wajib dipenuhi. Akan tetapi, alangkah terkejutnya Nabi Ibrahim mendengar jawaban dari Ismail yang diluar dugaan. Ternyata, justru Ismail mengamini dan mempersilahkan ayahnya untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Tidak ada sedikit pun rasa takut dan marah terhadap ayah kandungnya. Nabi Ibrahim tidak menyangka Ismail, anak kesayangannya, menerima dengan ikhlas perintah Allah. Namun, perintah tersebut tidaklah mudah bagi Nabi Ibrahim, karena setan yang terus menggodanya untuk menggagalkannya. Setan juga menggoda hati Hajar dan Ismail, tetapi tidak berhasil.



Kemudian, pada tanggal 10 Dzulhijjah, dibawalah Ismail ke tanah lapang untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Ibrahim juga mempersiapkan pedang yang telah diasah sangat tajam agar Ismail tidak merasa sakit. Namun, ketika Ibrahim menggoreskan pedang ke leher Ismail, pedang tersebut terpental. Berdasarkan sejarah qurban Nabi Ibrahim, Malaikat membawakan domba dan menukarnya dengan Nabi Ismail. Subhanallah, atas kesabaran dan ketaqwaan yang dimiliki Nabi Ibrahim dan Ismail, Allah memerintahkan agar pedang tersebut tidak menyembelihnya. Hal ini merpakan hikmah yang dapat diambil dari berkurban, yaitu membuktikan ketaqwaan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah.
Share on Google Plus

About Angga Prayudhatama

0 komentar:

Posting Komentar